Rabu, 1 Juli 2009, 14:05 WIB
Buru (XXIX)
Author : Djoko Sri Moeljono
  (dkimages.com)

VIVAnews - Setiap barak punya areal sawah sendiri-sendiri dan saat panen, ada beberapa kotak perontok di sawah. Tergantung dari kebutuhan sesuai luas areal yang dipanen, jumlah kotak perontok bisa lebih dari satu untuk setiap barak.

Demikian pula dengan gribig yang digelar untuk mendah bulir padi yang rontok,setiap ba rak berusaha membuat sesuai kebutuhan.

Kadang saat panen bisa turun hujan, yang biasanya tidak lebat dan kami bisa dengan cepat melindungi hasil padi yang sudah rontok dengan cara memindahkan kotak perontok dan kemudian menggulung gribig.

Kalau cuaca baik dan panas terik, bulir-bulir padi yang sudah rontok (gabah) sekaligus dijemur di atas gribig sampai sore. Gabah kering ini dikenal dengan sebutan GKP atau gabah kering panen.

Gabah yang sudah kering dimasukkan ke karung-karung plastik bekas pupuk yang sudah dicuci, untuk dibawa ke gudang dan ditimbang. Kotak penyimpanan gabah di dalam gudang kami buat dari papan meranti yang kami gergaji di hutan.

Sebelum dikonsumsi, gabah dari gudang dijemur kembali sebelum digiling jadi beras. Gabah yang tidak kering sempurna, bila digiling akan pecah-pecah.

Gabah yang siap digiling jadi beras ditimbang ulang dan hasilnya kami sebut GKG atau gabah kering giling.

Alat untuk menggiling gabah menjadi beras kami buat dari kayu yang keras, sebagai pengganti batu (di sekitar unit tidak ada batu besar untuk mebuat gilingan beras). Biasanya kami memilih kayu laban, yang lebih keras dari meranti rawa, dan gilingan padi ini dalam bahasa Sunda disebut “kiser” – berupa dua bagian, atas yang berbentuk kerucut tumpul dan bagian bawah yang cekung. Gabah yang sudah digiling kemudian ditiup dengan angin yang kami buat berupa “blower” – seluruhnya berbahan kayu kecuali karet bekas ban untuk pengganti rantai pemutar sudu-sudu.

Kalau jenis padinya bagus, dari 100kg gabah bisa dihasilkan 60-65kg beras dan selebihnya adalah sekam yang terbuang.

Bersama pak Alex, kami mencatatkan jumlah gabah yang masuk gudang dari sawah dan seluruh hasil kami campur dalam satu kotak besar tanpa dipisah-pisahkan dari areal sawah barak mana.

Setelah panen selesai seluruhnya, kami menghitung hasilnya dan dari hasil tersebut bisa menentukan berapa gram sehari boleh dikonsumsi, setelah disisihkan sebagian untuk bibit.

Berbeda dari Kapten Doim, Dan Unit kami yang baru mulai memperkenalkan semacam bagi hasil paksa. Dan unit akan menentukan berapa kilogram gabah dijual dan berapa kilogram untuk di konsumsi warga.

Dalam hal ini, boleh dikata semua hasil ladang juga diambil sebagian untuk dijual bagi kepentingan Dan Unit. 

Kalau Kapten Doim sampai pulang tanpa pernah menjual hasil bumi, hasil keringat tapol, maka Komandan baru ini sejak awal sudah mengambil paksa hasil bumi keringat tapol.

Jagung, kacang tanah, kacang kedelai – sebagian dijual dan hasilnya masuk kantong Dan Unit. Sumber penghasilan yang tidak kalah besarnya adalah kayu gergajian dan minyak kayu putih.

Pada saat Lettu Soemarsono menjadi Dan Unit, penyulingan minyak kayu putih mulai di rintis disamping penggergajian kayu.

Saya pernah mengikuti rombongan penggergajian, masuk hutan untuk membuat papan dan kaso. Penggergajian dimulai dengan memilih pohon yang besar dan tua, menebang, memotong batang pohon dengan panjang tertentu (biasanya empat meter), menaikkan potongan ke atas galangan dan menggergaji. Rombongan penggergajian ini minimum tiga orang kalau di sekitar galangan ada barak lain yang menggergaji. Kalau berjauhan dengan regu barak lain dan harus melakukan semuanya tanpa bantuan regu barak lain, maka anggota regu paling sedikit harus lima orang.

Bagian terberat setelah menebang dan memotong batang kayu menjadi gelondongan (log) adalah menaikkan ke atas galangan. Gelondongan kayu besar itu dinaikkan sedikit demi sedikit dengan bantuan rotan lewat semacam rel dari kayu, digeser dari tanah sampai naik ke atas galangan yang berupa batang-batang kayu sebagai dasar.

Saat menggergaji, seorang berdiri di atas dan seorang di bawah (di atas tanah) sambil menggerakkan gergaji besar yang digerakkan dengan memeras tenaga cukup besar.

Saat mengikuti tugas menggergaji kayu ini, terasa bahwa tenaga saya jauh lebih kecil dari teman-teman muda yang berotot.

Saya lebih memilih posisi di bawah, karena tugasnya menarik gergaji turun sedang kalau di atas rasanya lebih berat saat menarik gergaji ke atas. Perlu kerja sama yang baik antara yang memegang gergaji di bawah dan yang menarik ke atas, agar gerak gergaji selalu pada satu garis dan tidak berpindah-pindah arah, yang berakibat tebal papan hasilnya berubah-ubah tebalnya.

Setelah ada penggergajian, Dan Unit baru bukannya memerintahkan pembangunan barak-barak baru, tetapi lebih mementingkan membangun Gedung Kesenian.

Setiap unit yang lama, dari unit I sampai XIII sudah memiliki Gedung Kesenian yang seluruhnya terbuat dari kayu. Gedung kesenian berfungsi sebagai gedung serbaguna, tempat menyelenggarakan ceramah atau pertemuan bila ada tamu agung datang dari Jakarta, pertunjukan kesenian, dan sebagainya. 

Ratusan kubik kayu dibutuhkan, sedang barak yang kami tinggali semakin reot walau belum roboh. Di samping untuk pembangunan Gedung Kesenian, sebagian juga dijual untuk membangun kantong Komandan Unit.

Saat ikut di regu penggergajian, suatu saat teman-teman menemukan ular sanca cukup besar dan salah seorang warga barak 8, Muin Suparna yang asal Singaparna, dengan caranya ia bisa melumpuhkan dan membunuh ular yang lumayan besar.

Caranya, ia bacok kepala ular, kemudian dilepas lari. Saat ular lari meloloskan diri, ekornya dipegang dan ditarik beramai-ramai. Kepala ular kembali berbalik menyerang dan ke mudian dibacok lagi. Demikian berulang-ulang sampai lumpuh terbunuh.

Ular sanca besar tersebut kami pikul beramai-ramai ke barak, ditimbang dan diukur panjangnya. Daging ular seberat 80kg dengan panjang 6 meter lebih kami masak untuk tambahan protein.

• VIVAnews
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
Jika anda member Vivanews, silahkan login, atau Daftar ID anda.
Tentang u-report
  • Semua isi materi baik berupa teks, foto dan video yang dimuat oleh U Report adalah tanggung jawab pengirim sepenuhnya. Redaksi berhak mengedit materi sepanjang tidak mengubah isi dan substansi.
  • Kami adalah portal berita, dan melalui kanal ini, ingin mengajak anda terlibat dalam proses penciptaan berita. Peristiwa terjadi setiap saat, dan karena itu pasti lebih banyak berita di sekitar kita dari apa yang terlihat di media, baik cetak maupun elektronik.
  • Jadi, kanal ini diciptakan khusus bagi anda: komunitas U-Report. Anda boleh berbagi cerita yang tak biasanya kita baca atau tonton. Cerita yang kuat, menarik, penting, dan bersifat mendesak dari anda, sangat mungkin menjadi salah satu headline di VIVAnews.
Selamat berbagi cerita. Berita adalah anda.
Tips
topik u-report